Translate

SELAYANG PANDANG KKI


Senin, 13 Desember 2010

Petualangan Melihat Kakatua Abbotti

Petualangan ini membuat kami berhenti bernapas sejenak, ketika melihat keindahan yang tersisa itu, adalah sekelompok Kakatua abbotti. Ini adalah kesempatan langka yang diberikan Allah SWT kepada kami. 


Masalembu, kepulauan tersebut yang kami tuju. Terletak sekitar 155 km sebelah Utara pulau Madura. Kakatua kecil jambul kuning subspecies abbotti yang tengah dicari hanya dapat ditemui di Masakambing, Kepulauan Masalembu. Konservasi Kakatua Indonesia berkolaborasi dengan The Indonesian Parrot Project dan bantuan dana dari Stewart Metz MD, berusaha untuk mendata ulang kakatua endemis yang dalam keadaan terancam punah. Survei awal ini dilakukan pada bulan Juni dan Juli 2008.   

 
KM Perintis Amukti Palapa membawa kami berlayar dari pelabuhan Kalianget menuju Pulau Masalembu. Selama 13 jam terombang – ambing oleh ombak, kami pun tiba dengan selamat saat azdan subuh berkumandang. Maklum saja Kepulauan Masalembu terkenal dengan Pulau Tampomas (kapal Tampomas tenggelam tahun 1983) dan segitiga bermudanya Indonesia (Jawa, Kalimantan dan Sulawesi), yang terkenal juga dengan keganasan ombaknya. Banyak kapal besar maupun kecil karam disana. Itulah yang menyebabkan daerah ini cukup terisolir oleh daratan yang jauh.


Setelah istirahat beberapa jam, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pulau Masakambing yang dapat ditempuh dengan perahu kecil selama 2 jam. Lagi-lagi nyali kami pun diuji dengan ombak yang besar. Ini adalah ‘the true adventure’ petualangan yang sebenarnya.

Pulau Masakambing memiliki luas hanya 5 km2 dan dihuni sekitar ± 1400 jiwa, dengan dominasi suku Madura dan Bugis. Keramahan penduduknya dan keindahan alam yang luar biasa, membuat kami lebih bersemangat untuk mencari Kakatua abbotti yang tersisa.


Pertemuan Pertama

Pengorbanan melawan ombak besar pun tak sia-sia, dengan dibayar mahal oleh pertemuan yang sangat istimewa. Kuwak…..kuwak…….kuwak…….. Kakatua bersuara seperti mengucapkan selamat datang kepada kami.

Yap…………dari warna tubuhnya yang putih bersih, bentuk paruhnya yang lucu, khas kuning jambulnya dan suara paraw yang terbawa semilir angin, kami pun berhenti bernapas sejenak, ketika melihat sepasang Kakatua bertengger di atas pohon kapuk mati. Yah…..benar ini adalah abbotti yang sangat terkenal itu. Kami sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk melihat kesempatan langka ini. Sebab rasa pesimis selalu muncul setelah hampir 10 tahun tidak ada kabar beritanya, sejak penelitian terakhir tahun 1999 (oleh Setiawan, dkk.) yang hanya menemukan 5 ekor Kakatua abbotti. Rasa syukur kami pun bertambah, manakala tidak dua ekor Kakatua yang kami temukan, tapi 10 ekor Kakatua (4 pasang dewasa dan 2 anak).


Tanpa membuang waktu percuma, cekrek…………cekrek………..cekrek……………….
Banyak foto pun diambil dari selebritis ini.

Ancaman

Sayangnya, Kakatua eksotik dan unik ini terancam keberadaanya. Ada sebagian oknum masyarakat yang sengaja mengambil anaknya untuk dijual, karena harganya yang mahal. Tidak hanya itu beberapa oknum Pemerintah baik dari TNI, Polri, perangkat Desa, Kecamatan atau Kabupaten yang memesan langsung anak burung tersebut. Ironis sekali, ketika masyarakat yang seharusnya bangga dan menjaga burung khas mereka, tetapi ternyata mereka menjual burung tersebut.

Selain terancam karena perdagangan, habitat pohon pakan dan pohon sarang pun sangat kurang, karena memang letaknya yang berada didalam pemukiman penduduk, tentu saja lahan pun berubah menjadi pemukiman dan perkebunan.

Untungnya Kakatua abbotti ini masih dapat bertahan hidup dengan daya survival yang tinggi. Burung ini merubah pohon sarangnya dari kelapa menjadi sukun. Seperti diketahui, penduduk akan memanen secara berkala buah kelapa dan tentu saja akan mengetahui sarang Kakatua, dan bukan tidak mungkin anak Kakatua akan mudah untuk diambil. Selain itu, sejak mangrove dan pakan alaminya berkurang karena perluasan perkebunan, Kakatua pun merubah jenis pakanya menjadi lebih agrikultur seperti kelapa, sukun, belimbing wuluh, kedongdong, lontar, kelor, dsb.

Tapi burung ini memang pintar, perubahan strategi membuat burung ini menjadi bisa bertahan dari berbagai macam ancaman.


Sebuah tantangan bagi kami untuk dapat merubah pola pikir masyarakat untuk dapat peduli dan bangga terhadap kekayaan alam mereka, dan mungkin justru itulah point dimana mereka dapat mendapatkan pemasukan guna meningkatkan kesejahteraan.

Hampir setiap hari kami selalu mengamati polah tingkah burung ini, yang dimulai dari setelah adzan subuh dan diakhiri setelah adzan maghrib. Dari mulai bertengger, terbang, makan, membersihkan bulu, sosialisasi dengan Kakatua lain atau hewan lain, sampai bercumbu dan mating.     

Hari pun berganti hari, setelah 7 minggu berada di pulau Kakatua, survei awal pun berakhir. Kami berharap Kakatua abbotti akan terus lestari keberadaanya, rasa bangga masyarakat pun terus meningkat dan tunggu kedatangan kami berikutnya.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Dudi Nandika dan Dwi Agustina
Konservasi Kakatua Indonesia – The Indonesian Parrot Project
Po Box 363 Bekasi 17036
animasi-bergerak-burung-kakatua-0112