Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia (KKI) adalah organisasi non-profit yang berdiri pada tanggal 27 Februari 2007 dan telah teregistrasi di Kemenkum HAM melalui Berita Negara No. C-01.HT.01.03.TH.2007. KKI adalah lembaga yang fokus dalam upaya konservasi burung paruh bengkok asli Indonesia sehingga dapat memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat secara berkelanjutan.

Cacatuidae adalah salah satu famili dari ordo Psittaciformes. Indonesia memiliki delapan jenis atau 36 persen dari total 22 jenis kakatua di dunia dan empat diantaranaya merupakan jenis endemik. Kakatua memiliki karakteristik khusus salah satunya yaitu tipe warna dominan pada kakatua hanya putih dan hitam. kemudian kakatua memiliki aksesoris berupa jambul dengan ukuran dan bentuk bervareasi, ada yang berbentuk busur yang melengkung seperti yang dimiliki kakatua jambul kuning dan kakatua raja. Berbeda dengan jambul yang dimiliki kakatua alba dan kakatua maluku yang bentuk jambulnya seperti kipas yang mengembang. Kemudian tipe jambul berikutnya yaitu bulu dibagian kepala yang berdiri seperti tanduk dengan ukuran yang pendek seperti jambul yang dimiliki kakatua tanimbar dan kakatua rawa. Karakter khusus lainya yang dimiliki kakatua yaitu aksesoris warnya yang ada pada bagian penutup telinga, bagian bawah sayap dan ekor serta sapuan warna merah muda pada kakatua maluku. pada beberapa jenis kakatua memiliki kulit yang tidak ditumbuhi rambut dibagian sekeliling mata dan bagian muka. Kakatua sebagai granivora dan frugivora memiliki kebiasaan memetik buah lalu terbang mecari tenggeran yang sesuai untuk makan buah dan menyisakan bijinya untuk disebarkan. Hal tersebut yang menjadikan kakatua sebagai zookori atau penyebar biji.

Burung paruh bengkok merupakan famili psitacidae yang didalamnya memuat beberapa marga yaitu meliputi nuri, betet, perkici, serindit. Indonesia menjadi rumah dari 84 jenis burung paruh bengkok dari 391 burung paruh bengkok yang ada di dunia. Burung paruh bengkok umumnya memiliki warna yang menarik dan kontras perpaduan beberapa warna yang mencolok, seperti merah, biru, kuning, hijau dan berpadu dengan hitam ungu. Selain warna yang menjadi pembeda antara jantan dan betina (sexualdimorfism) burung nuri juga merupakan burung yang spesial karena memiliki lidah khusus dengan rambut-rambut halus di ujung lidahnya sebagai alat untuk mengambil nektar dari bunga-bungaan di hutan. Nuri merupakan salah satu hewan ornithogami yang bertugas membantu melakukan penyerbukan.
Kakatua-kecil jambul-kuning anak jenis dari Pulau Masakambing (Cacatua sulphurea abbotti)
Kakatua anak jenis Masakambing Cacatua sulphurea abbotti merupakan salah satu anak jenis kakatua-kecil jambul-kuning yang persebarannya terbatas hanya ada di pulau Masakambing. Anak jenis paling langka ini diambang kepunahan dengan populasinya hanya tersisa 5 ekor di alam pada tahun 1999. Alihfungsi habitat akibat datangnya masyarakat dari Sulawesi Selatan dan Madura untuk tinggal dan menetap di kepulauan Masalembu. Kakatua juga menjadi objek perburuan, objek latihan tembak tentara dan menjadi buah tangan karyawan kilang minyak Elnusa dan para pejabat pemerintahan yang berkunjung dari Pulau Masalembu. Hal tersebut yang menjadi penyebab punahnya kakatua di Pulau Masalembu di awal tahun 90an dan menyisakan populasi terakhirnya di Pulau Masakambing. Sejak terakhir dilaporkan populasinya menurun hingga hanya 5 ekor tahun 1999 seakan keberadaan kakatua ini terlupakan tidak pernah lagi ada upaya penelitian dan konservasi untuk menjaga kelestarian burung ini hingga akhirnya pada tahun 2008 Konservasi Kakatua Indonesia (KKI) datang untuk melakukan upaya peningkatan populasi dan konservasi terhadap kakatua di Masakambing.

Jumat, 21 November 2025, saat mengunjungi Negeri Adat Huaulu, Pulau Seram, saya berkesempatan untuk melakukan program Conservation Awareness and Pride Program (CAP) ke salah satu sekolah dasar yang ada di Huaulu, yaitu SD Negeri 330 Maluku Tengah. Kegiatan kunjungan ke sekolah dasar ini dilakukan pada pukul 09.00 – 11.00 WIT. Antusiasme yang besar dari anak-anak SD Negeri 330 Maluku Tengah menyambut kami dengan hangat. Sebanyak 33 orang murid dan 3 orang guru turut berpartisipasi bersama dalam kegiatan ini.

Sebagai salah satu langkah baru dalam membantu upaya konservasi dan perlindungan burung paruh bengkok. Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia yang diwakili oleh kedua staff, Ali dan Geo mendapatkan kesempatan lewat grant yang diberikan oleh Asian Species Action Partnership (ASAP) untuk mengikuti kegiatan Training Workhsop yang dilaksanakan oleh EarthRanger pada tanggal 5-7 Agustus 2025 di Bangkok, Thailand. Kegiatan ini diikuti sebagai bentuk capacity building bagi kedua staff untuk menunjang setiap program dan kegiatan Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia sehingga lebih efisien dan efektif.

Bogor, 8-10 Agustus 2025, suasana sejuk Kota Hujan terasa semakin hidup ketika ratusan peneliti, pemerhati burung, mahasiswa, dan pecinta burung berkumpul dalam Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia (KPPBI) Ke-7. Mengusung tema “Harmonisasi antara Burung, Manusia, dan Lingkungan”, perhelatan ini menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman dan sekaligus menimba ilmu, hasil penelitian, serta semangat konservasi yang melintasi batas generasi dan wilayah.

Burung paruh bengkok dikenal sebagai salah satu jenis burung yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Hal ini membuatnya menjadi salah satu jenis burung yang sangat digemari oleh para peminat burung, dikarenakan oleh kemampuannya dalam menirukan suara juga keindahan bulunya. Tak heran, bahwa jenis burung ini memiliki tingkat eksploitasi yang tinggi karena diburu dan diperdagangkan oleh masyarakat secara illegal. Ini merupakan ancaman besar terhadap keseimbangan ekosistem dan kosongnya relung burung paruh bengkok di alam.

Yogyakarta, 23-28 Juni 2025, Centre for Orangutan Protection (COP) kembali menyelenggarakan COP School Batch 15 di Yogyakarta. Selama enam hari, sebanyak 43 peserta terpilih dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul untuk belajar, berdiskusi, dan berlatih langsung mengenai konservasi satwa liar serta aktivisme lingkungan. Salah satu staf Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia (KKI) atas nama Al Khaidir Ali mendapat kesempatan berharga untuk mengikutinya. Program ini telah menjadi ikon pendidikan non-formal sejak pertama kali dilaksanakan pada tahun 2011. Melalui kombinasi materi teori, praktik lapangan, simulasi kampanye, serta refleksi bersama, COP School berupaya melahirkan generasi muda yang peduli, kritis, dan berani bergerak untuk melindungi alam.

Pada tanggal 14 -17 November 2024, Asian Ornithological Conference telah diadakan di Beijing, China. Acara ini dihadiri oleh 528 delegasi dari 39 negara (yaitu sebanyak 505 delegasai dari Asia dan 23 delegasi dari non-Asia), yang terdiri dari 76 Universitas, 37 Lembaga Penelitian, dan 28 peserta merupakan gabungan dari peserta pameran, sponsor dan pendukung acara. Konferensi ini merupakan acara rutin empat tahunan dimana acara sebelumnya dilaksanakan di Zhuhai - China, namun dilaksanakan secara virtual disebabkan oleh pandemik Covid-19. Konferensi ini merupakan peningkatan pertukaran akademik antar negara dikawasan Asia, mempromosikan penelitian dan konservasi di bidang ornithology di Asia dan meningkatkan status dan pengaruh internasional organisasi ornithology di Asia.
Perkici buru (Charmosyna toxopei) merupakan salah satu jenis spesies endemik Pulau Buru yang misterius. Spesies ini pertama kali ditemukan pada tahun 1921 oleh seorang ahli entomologi kelahiran Tuban, Lambertus Johannes Toxopeus. Dia menyebutkan bahwa jenis ini memiliki sebaran populasi yang sangat terbatas dan kemungkinan hanya tersebar di tepian sungai bagian barat Dataran Tinggi Rana. Catatan terkait dengan penemuan perkici buru ini sangat sedikit selama bertahun-tahun, sehingga perkiraan tentang besaran populasi jenis ini pun tidak dapat diperkirakan.

Konservasi Kakatua Indonesia (KKI) baru-baru ini mendapat kesempatan bermitra dengan Yayasan Planet Indonesia (YPI) dan difasilitasi untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan melalui training Perencanaan Strategi Konservasi Keanekaragaman Hayati selama hampir empat bulan secara daring dan luring yang dimentori oleh PT Digdaya Citra Selaras. Training ini diikuti oleh KKI, TLGC (Toli-toli Labengki Giant Clam dan YPI. Training ini meliputi peningkatan keterampilan Coaching dan mentoring bagi leader konservasi, dan tahapan-tahapan perencanaan strategi konservasi keanekaragaman hayati.
Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis) adalah salah satu burung paruh bengkok iconic dari sekitar 11 jenis yang hidup di Pulau Seram. Burung endemik ini memiliki resiko kepunahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis lain yang memiliki sebaran luas. Perburuan dan penyelundupan illegal adalah ancaman utama terhadap Kakatua Maluku, Berdasarkan data KKI 2016-2020, terdapat hubungan positif dan signifikan antara populasi liar dan data penyitaan burung paruh bengkok di Pulau Seram.

11 Mei 2024, ditemani cuaca kota Ambon yang berawan diselingi rintik-rintik hujan, sekelompok anak muda telah duduk menunggu di rumah payung FMIPA. Pagi itu memang jadwal para member KKI pengamatan burung, di kampus Unpatti tercinta. Kegiatan rutin ini merupakan ajang mengasah kemampuan para member dalam mengidentifikasi, mengasah kejelian mereka, kesabaran dan kedisiplinan. Meskipun cuaca sedang tidak terlalu bersahabat namun antusiasme peseta pengamatan sangat tinggi. Sekitar 12 member yang bergabung dalam pengamatan ini semuanya merupakan mahasiswa jurusan Biologi FMIPA Unpatti. Agar pengamatan lebih fokus maka kami coba bagi menjadi tiga tim. Tak lupa sebelum memulai mengamati kami melakukan briefing teknis pengamatan telebih dahulu, pembagian binocular dan tata cara pengisian work sheet.
Taman Nasional Manusela
Kekayaan alam serta panorama indah di Taman Nasional Masnusela sudah terkenal hingga mancanegara. Bahkan, TN Manusela masuk salah satu daerah konservasi alam terindah yang ada di Indonesia. TN Manusela memiliki luas 1,890 km2 ini merupakan surga bagi para pengamat burung untuk birdwatching dan fotografi. Terdapat sekitar 11 jenis burung paruh bengkok di TN Manusela. Jumlah jenis yang lumayan banyak dalam satu kawasan, dan terdapat tiga jenis yang endemik, diantaranya: (1) Kakatua maluku Cacatua moluccensis; (2) Nuri telinga biru Eos semilarvata; dan (3) Kasturi tengkuk ungu Lorius domicella.
Kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea), menjadi salah satu spesies burung kakatua yang paling terancam punah di Indonesia. Meskipun umumnya tersebar luas di wilayah Indonesia Tengah, namun dalam kurun waktu 40 tahun terakhir terdapat penurunan jumlah yang sangat signifikan pada populasinya. Situasi ini menunjukkan penyusutan besar dan ancaman serius terhadap keberlangsungan spesies ini di seluruh daerah penyebarannya.
Kakatua maluku, Cacatua moluccensis, yang juga dikenal sebagai Kakatua Seram, merupakan salah satu kakatua yang terancam punah yaitu dengan status “Rentan” berdasarkan buku data list merah IUCN. di Indonesia. Kakatua maluku (Cacatua moluccensis) merupakan satwa endemik Maluku Selatan dan mempunyai risiko kepunahan lebih tinggi dibandingkan dengan jenis lain yang mempunyai wilayah sebaran lebih luas. Perburuan dan penyelundupan ilegal merupakan ancaman utama bagi spesies iconic ini. Tidak ada catatan terbaru mengenai populasi jenis ini di Saparua, Haruku, Nusa laut dan Buano. populasinya mungkin hanya bertahan di satu wilayah di Ambon, hanya menyisakan hampir seluruh populasi di Seram, yang dulunya melimpah, namun kini mengalami penurunan secara cepat, termasuk sekitar 20-40% penurunannya di satu wilayah selama tahun 1990an.

Langkah-langkah konservatif merupakan sebuah cara agar sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dapat terjaga dan tetap seimbang. Hubungan timbal balik antar unsur dalam sumberdaya alam hayati dapat berdampak pada ekosistem, termasuk keberadaan burung di dalamnya.
